Kehidupan - Remaja itu adalah masa dimana rasa semangat,
kritis dan cepat dalam memilih masih melekat dalam jiwa seseorang. Masa remaja
sangat menentukan kepribadian dan masa depan seseorang. Dengan kondisi yang
masih serba semangat, seringkali pengambilan keputusan yang cepat oleh remaja
menimbulkan konflik atau perdebatan yang berujung pada tindakan kekerasan.
Kekerasan remaja kian hari sering terjadi.
Bentuk kekerasan remaja itu sendiri antara lain tawuran antar sekolah, tawuran
antar geng bahkan pertarungan satu lawan satu (duel). Keinginan pelajar untuk
melakukan tawuran begitu besar, Seperti
yang terjadi di Kota Tangerang pada tanggal 07 Sepetember 2017, ketika seorang
Polisi yang bernama Aiptu Sugiri sedang bertugas melakukan patroli di Daerah
Cisauk Kabupaten Tangerang, yang kebetulan melihat sekelompok pelajar yang sedang
menumpang di Mobil Truk, yang terlihat dari lagak para pelajar bisa dipastikan
akan melakukan tawuran, Aiptu Sugiri menghentikan Truk tersebut dan salah
seorang pelajar turun langsung memukul Aiptu Sugiri, pelajar yang lain ikut
turun dan memukuli Polisi tersebut. Itu salah satu bukti keinginan keras para
pelajar untuk melakukan tawuran.
Lebih prihatin lagi ketika pelajar melakukan
duel dengan pelajar sekolah lain, seperti yang terjadi di Kota Bogor pada
tanggal 29-09-2016, pertarungan duel satu lawan satu atau bisa disebut juga
pertarungan ala Gladiator itu dilakukan oleh sekolah SMA Mardi Yuana dengan
sekolah SMA Budi Muliya, bahkan dalam duel tersebut sampai menghilangkan nyawa
seseorang, dalam kasus ini begitu seriuskah kekerasan yang terjadi dikalangan
pelajar?
Menurut Dra. Noorkasiani dkk. Dalam bukunya
yang berjudul Sosiologi Keperawatan, dijelaskan bahwa kekerasan adalah
perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya
seseorang atau kerusakan secara fisik dan psikologi. Kekerasan ini kata yang
sangat populer, sebagian orang mengetahui apa itu kekerasan dan bolehkah
kekerasan itu dilakukan. Sebagian manusia, mengetahui hal itu dan kebanyakan
dari kita tidak mau menerima tindakan kekerasan terhadap kelompok atau golongan
kita dan bahkan kita sendiripun tidak mau menerima tindakan kekerasan tersebut.
Penyebab terjadinya kekerasan sangat beragam,
ada yang berawal dari individu yang suka melakukan tindakan kekerasan dan ada
juga kelompok yang suka menebarkan kebencian yang berujung pada kekerasan
secara fisik, penyebab lainnya adalah perbedaan secara keyakinan. Setiap individu,
kelompok, dan orang yang berkeyakinan, kebanyakan tidak suka diganggu, namun
batasan-batasan yang menjadi tolak ukur terganggu disini menjadi bomerang bagi
manusia untuk melakukan tindakan kekerasan tersebut.
Seperti kasus pada tanggal 24 Februari 2015,
terjadi pengeroyokan dan pembakaran begal yang tertangkap di wilayah Pondok
Karya, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan. Meskipun itu terjadi pada dua
tahun silam, namun sikap seperti ini membuat siklus kebencian dan kekerasan
bertambah. Para begal lebih sadis lagi dalam melakukan aksinya, dikarenakan
warga atau masyarakat lebih kejam lagi membalasnya. Rantai kebencian dan
kekerasan seperi ini susah untuk diputuskan.
Dari situ bisa kita bisa lihat, tindakan
kekerasan merupakan respon yang sangat natural. Tidak ada beban untuk melakukan
tindakan kekerasan, meskipun tahu tindakan kekerasan itu tidak baik, namun
tetap melakukannya. Ini sudah menjadi kebiasaan dilingkungan kita, bila ada
yang membuat kerusuhan dan keresahan respon yang pertama kali dilakukan adalah
membalas kerusuhan dan keresahan tersebut dengan tindakan kekerasan. Sama
halnya ketika kita dalam perjalanan dan ingin membuang sampah, maka yang akan
dilakukannya adalah membuang sampah disaat itu juga. Padahal tahu bahwa membuang
sampah sembarangan itu tidak baik, tapi tetap melakukannya.
Penyebab kekerasan lainnya adalah tekanan
sosial, remaja merasa dirinya tertekan oleh orang lain atau oleh keadaan. Pada
dasarnya remaja memiliki emosional yang cukup tinggi dan tidak memikirkan
dampak panjangnya, namun lebih melihat dampak pendek atau menyelesaikan masalah
pada saat itu juga. Dengan adanya tekanan sosial, seorang remaja seringkali
merasa terpinggirkan atau merasa terlihat beda, kebiasaan sifat manusia selalu
ingin membuktikan sesuatu, cara untuk membuktikan disini bisa dengan hal yang
positif dan hal yang negatif. Seringkali remaja lebih memilih kehal-hal yang mereka
anggap benar.
Bentuk tekanan sosial yang terjadi adalah
ketika remaja kurang kasih sayang dari kedua orang tua membuat perilaku remaja
mencari-cari perhatian pada mayarakat. Respon masyarakat tidak sesuai dengan
apa yang diinginkan oleh remaja, maka remaja berfikiran bahwa tidak ada yang
dapat mengerti dirinya selain temannya sendiri, ikatan emosionalpun terjalin
dan setelah itu ikatan mereka lebih dekat dari pada ikatan saudara (sedarah).
Setelah terjalinnya ikatan tersebut, remaja
selalu membantu temannya yang lagi kesusahan. Kesusahan disini meliputi
beberapa faktor, seperti kesusahan dalam masalah ekonomi, pertengkaran dengan
remaja lainnya, konflik dalam rumah dan lain sebagainya. Sehingga bila
melakukan sesuatu yang salah maka tetap dianggap benar oleh dirinya.
Selain tekanan sosial, kekersan dalam remaja
biasanya dipicu oleh masalah perempuan. Masalah perempuan disini bukan berarti
perempuannya yang salah, namun karena perebutan dengan cowok lain atau bisa
jadi karena perempuannya digoda oleh cowo lain. Karena masalah seperti ini
dianggap merendahkan harga diri, lantas masing-masing remaja akan membela harga
dirinya sendiri yang pada akhirnya kekerasanlah yang menjadi solusi
(pertarungan/duel).
Masalah yang di atas seharusnya bisa
diselesaikan sendiri, namun karena faktor kedekatan emosional dengan temannya
(solidaritas), maka masalah pribadi tersebut merambat menjadi masalah kelompok
(geng) dan pada akhirnya peperangan atau tawuran antar kelompokpun dimulai.
Situasi seperti ini sering kita jumpai di kalangan masyarakat dan biasanya yang
menjadi korbanpun bukan hanya mereka, namun warga atau masyarakat sekitar juga
menjadi korbannya.
Bisa
disimpulkan bahwa terjadinya kekerasan dalam sosial juga dipengaruhi oleh
faktor individu (pribadi), yaitu apabila individu membentuk sebuah kelompok
(geng) dengan menyamakan persamaan seperti persamaan keyakinan, persamaan
merasa tersisihkan, dan lain sebagainya.
Sehingga ketika individu itu melakukan suatu tindakan yang
diinginkannya, maka yang akan dia bawa dalam identitas dirinya adalah nama
kelompoknya, sehingga konflik antara kelompokpun pasti terjadi. Kelompok yang
satu beranggapan bahwa dirinyalah yang paling benar, anggapan seperti itu pula
yang dirasakan oleh kelompok lainnya, pada
akhirnya tindakan kekerasan pula yang akan menjadi solusi. Kekerasan itu terjadi
karena masing-masing kelompok gengsi dan
merasa benar sendiri sehingga tidak terjalinnya sebuah diskusi yang bisa
memecahkan masalah tanpa melalui kekerasan.
Bentuk
geng atau kelompok dalam dunia remaja sangat beragam. Geng atau kelompok remaja
ini berawal dari film-film barat, seperti koboi dan geng motor gede, adegan
seperti ini menarik perhatian remaja kita dan membuat remaja kita mengikuti
tren tersebut. Sampai sekarang geng atau kumpulan remaja semakin berkembang,
ada geng motor, geng rock, geng seporter bola, dan geng-geng lainya.
Geng-geng
tersebut memasuki dunia sekolah dan tidak sedikit pelajar yang ikut serta dalam
geng tersebut. Dengan itu pelajar merasa punya kekuasan, karena mempunyai
banyak teman di gengnya. Proses untuk menjadi anggota geng pun cukup menarik,
ada yang diadu (duel) dengan senior gengnya, ada yang dipukul, dan ada juga
yang membacok orang yang lewat.
Dari
awal masuk geng saja sudah terlihat bentuk dari kekerasan yang terjadi seperti
apa, maka jangan heran ketika sudah bergabung remaja sering berbuat tindakan
yang diluar nalar orang deawasa. Karena perilaku yang meraka lakukan dianggap
benar oleh mereka, meskipun tahu bawha itu salah mereka tidak bisa berbuat
apa-apa karena seolah-olah yang mereka lakukan itu sudah lumrah dilakukan oleh
geng-geng yang lain.
Dengan masuknya geng atau kelompok remaja ke
dalam sekolah-sekolah membuat pelajaran yang ada di sekolah kalah dengan
pelajaran yang didapat dalam geng tersebut. Pemahaman yang seperti ini bukan
salah sekolah atau guru-guru yang mengajar. Karena secara ikatan emosional
remaja lebih dekat dengan teman mainnya daripada dengan gurunya. Secara
otomatis pemahaman yang diberikan temannya lebih menanam ditingkah lakunya dari
pada pelajaran yang diberikan oleh gurunya.
Pada zaman sekarang kekerasan terjadi
dimana-mana, seolah-olah kekerasan menjadi sebuah solusi yang benar. Terjadinya
kerusuhan antara anak-anak sekolah yang berujung tawuraran memiliki dampak yang
cukup serius, dampak yang dirasakan setelah terjadinya bentrokan antara pelajar
biasanya kerusakan pada bangunan yang ada di sekitar, ini bisa dinamakan
kerusakan secara fisik, kerusakan fisik lainnya adalah adanya luka-luka yang
diderita oleh orang-orang yang terlibat, luka yang lebih terasa bagi orang yang
terlibat langsung maupun tidak langsung dalam tindakan kekerasan adalah hati
dan moral, ini dinamakan kerusakan secara non fisik.
Kekerasan berdampak buruk bagi kehidupan
sekarang dan pada masa yang akan datang. Dampak yang sekarang dapat kita
rasakan secara umum adalah menganggap kekerasan sebagai solusi, mengeklain
remaja yang suka kumpul atau yang melakukan kekerasan adalah orang-orang yang
buruk, rasa trauma terus mengintai orang-orang yang pernah menjadi korban
kekerasan, serta trauma itu menyebar ke orang-orang yang ada disekitarnya.
Dampak buruk pada masa yang akan datang karena
tindakan kekerasan adalah menganggap kekerasan itu adalah hal yang biasa
terjadi, meneruskan siklus kebencian antara remaja-remaja yang tidak
diperhatikan di masyarakat sekitar dengan melakukan aksi-aksi yang tercela,
siklus seperti ini tidak akan pernah ada habisnya.
Kita harus lebih memperhatikan dampak
kekerasan pelajar sekolah ini terhadap Negara kita, karena pada dasarnya
remajalah yang akan menjadi raja atau penguasa di Negara kita ini, apa yang
akan terjadi pada Negara kita kalau anak-anak pelajarnya bertingkah seperti
bukan orang yang terpelajar.
Setelah mengetahui penyebab dan dampak
kekerasan kita bisa memikirkan solusi atau tindakan yang harus kita lakukan
untuk mengurangi tindakan kekerasan pada remaja. Mengurangi tindakan kekerasan
pada remaja bukan berarti memenjarakan mereka. Memenjarakan disini bisa berarti
penjara di balik jeruji, bisa juga membatasi gerak atau tindakan remaja. Itu
semua membuat remaja semakin berontak, tidak bisa melakukan kreatifitas atau
pengembangan pengetahuan. Dengan itu remaja tidak bisa belajar dari apa yang
telah mereka lakukan.
Kita dapat meminimalisir tindakan kekerasan
dengan membatasi penyebran geng atau kumpulan pada remaja yang tidak berdampak
baik bagi remaja atau bagi orang yang disekirtarnya. Dilihat dari ini bukan
berarti geng yang ada pada remaja harus dibubarkan. Karena tidak semua geng yang ada berbuat
tidak baik namun ada juga geng remaja yang bisa melahirkan karya yang sangat
luar biasa. Oleh karena itu kita harus melihat geng mana yang berpotensi
melahirkan sebuah karya dan geng mana yang akan berdampak buruk bagi dirinya
sendiri atau bagi orang lain. Kita mulai dari lingkungan yang kita tempati, setelah
itu kita lihat dan amati geng mana saja yang berpotensi melakukan tindakan
kekerasan dan apa yang melatar belakangi tindakan kekerasan tersebut.
Setelah itu kita mencoba berbaur dengan
mereka, kita masuk dalam dunia mereka. Dengan begitu kita dapat merasakan apa
yang mereka rasakan dan kita bisa masuk
dalam dunia bawah sadar mereka, mengikatkan tali pesaudaraan dengan mereka atau
bisa dikatan terikat secara emosional. Dengan begitu kita mudah untuk
memberikan pemahaman, bahwa penyelesaian masalah itu bukan hanya dengan
kekerasan.
Tindakan kekerasan terjadi pada kalangan
remaja biasa berawal dari pelampiasan mereka kepada dunia yang tidak seperti
apa yang mereka inginkan atau merasa terasingkan. Dilihat dari itu kita dapat
menghindari kekerasan dengan cara membuat kegiatan-kegiatan apa saja yang
mereka senangi. Paham dengan kehidupan mereka
membuat kita tahu apa yang mereka inginkan. Setelah itu kita buat kegiatan yang
mereka senangi dengan sistem kita. Contohnya seperti remaja suka membuat
tulisan-tulisan di jalan, maka kita membuat kegiatan yang sesuai dengan itu. Pada
intinya kita harus memperhatikan mereka dengan cara melakukan pendekatan bukan
hanya bisa mengkritik apa yang mereka lakukan.
Setelah kita melakukan apa yang mereka
senangi, secara otomatis mereka akan mengikuti apa yang kita senangi, itu yang
dinamakan ikatan secara emosional atau timbal balik secara rasa. Dengan begitu
kita mudah untuk memberikan pemahaman bahwa menyelesaikan masalah atau konflik
dalam masyarakat tidak perlu dengan kekerasan.
Dimana ada tindakan yang tidak mestinya
terjadi namun tetap terjadi, tidak perlu naik darah (emosi), perlu sikap
bijaksana untuk menyelesaikannya. Seperti bila ada kasus pencurian dan orang
yang mencuri tersebut tertangkap, tidak perlu memukili orang tersebut. Kita
tanya terlebih dahulu mengapa dia mencuri, setelah tertangkap jangan main hakim
sendiri atau jangan langsung memberikan pemahaman bahwa mencuri itu tidak baik.
Karena pada dasarnya semua orang yang melakukan tindakan kejahatan tahu bahwa
tindakan itu tidak baik, namun keadaanlah yang membuat mereka harus berbuat
seperti itu.
Untuk penyelesaian masalah seperti itu, bisa
dengan menyuruh orang itu menjadi tukang bersih-bersih di mushalah atau masjid,
kasih uang gaji untuk makan dan kehidupan sehari-hari. Dengan tindakan seperti
itu, kita sudah menghentikan salah satu rantai kebencian dan kekerasan dalam
masyarakat. Dengan tindakan seperti ini berdampak baik bagi pelaku ataupun bagi
orang-orang yang melihat, pelaku akan sadar dengan sendirinya, dan dampak bagi
orang lain adalah memahami bahwa menyelesaikan maslah bukan hanya dengan
tindakan kekerasan. Tindakan seperti itu bisa diterapkan dalam kasus-kasus yang
lain walaupun dengan metode yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama.
Sikap yang kita tunjukan dalam setiap kasus
mencerminkan bahwa kita ini bukan manusia yang sempurna. Seperti kasus
pencurian yang berujung kekerasan, pembegalan yang dibalas dengan tindakan
kekerasan, dan kasus berbuat mesum juga berujung pada tindakan kekerasan. Itu
semua mencerminkan bahwa otak kita tidak digunakan untuk berfikir namun berinsting
karena yang terjadi pada semua itu bisa dikatakan sebuah reflek yang terlahir
dari sebuah proses menginsting bukan lahir dari proses berfikir.
Seseorang yang berbuat kesalahan atau
kejahatan bukan berarti mereka pantas mendapatkan kekerasan. Kalau respon yang
kita berikan kepada orang yang melakukan kekerasan dengan tindakan kekerasan
juga, maka apa bedanya kita dengan orang itu. Sifat yang terlihat dari
kekerasan menjadi solusi adalah terhapusnya nalar kemanusiaan kita dan terhapusnya
ilmu pengetahuan kita, itu dampak utama yang dirsakan oleh pelaku ataupun yang
melihat.
Satu-satunya cara untuk menghentikan tindakan
kekerasan dan kebencian adalah dengan cara tidak melakukan tindakan kekerasan
dan mengusir jauh rasa benci terhadap apapun. Jika kita tersakiti bukan berarti
kita berhak untuk membalas rasa sakit tersebut. Karena apa bila kita membalas
rasa sakit itu, maka balasan yang kita lakukan akan lebih dari rasa sakit yang
kita rasa. Itu respon alami yang dialami oleh manusia, untuk itu jika kita
tersakiti, maka tidak usah membalas dengan menyakiti lagi.
Pada intinya kekerasan bukanlah solusi dari
sebuah permasalahan, akan tetapi tindakan kekersan akan memperpanjang sebuah permasalahan.
Namun bukan berarti kalau ada tindakan kekerasan terjadi di masyarakat kita
tidak melakukan apa-apa, kita hanya melihat saja itu adalah tindakan yang benar,
tindakan seperti itu bisa dibilang salah, karena kita membiarkan kekerasan itu terjadi.
Kita harus mencegahnya dan mengalihkan tindakan tersebut kehal-hal yang positif,
seperti apa yang dicontohkn di atas.
Baca Juga: Membuang Sampah Dengan Sadar
Baca Juga: Membuang Sampah Dengan Sadar

No comments:
Post a Comment