Friday, May 10, 2019

Kekerasan Bukan Solusi Dari Permasalahan

Kehidupan - Remaja itu adalah masa dimana rasa semangat, kritis dan cepat dalam memilih masih melekat dalam jiwa seseorang. Masa remaja sangat menentukan kepribadian dan masa depan seseorang. Dengan kondisi yang masih serba semangat, seringkali pengambilan keputusan yang cepat oleh remaja menimbulkan konflik atau perdebatan yang berujung pada tindakan kekerasan.
Kekerasan remaja kian hari sering terjadi. Bentuk kekerasan remaja itu sendiri antara lain tawuran antar sekolah, tawuran antar geng bahkan pertarungan satu lawan satu (duel). Keinginan pelajar untuk melakukan tawuran begitu besar,  Seperti yang terjadi di Kota Tangerang pada tanggal 07 Sepetember 2017, ketika seorang Polisi yang bernama Aiptu Sugiri sedang bertugas melakukan patroli di Daerah Cisauk Kabupaten Tangerang, yang kebetulan melihat sekelompok pelajar yang sedang menumpang di Mobil Truk, yang terlihat dari lagak para pelajar bisa dipastikan akan melakukan tawuran, Aiptu Sugiri menghentikan Truk tersebut dan salah seorang pelajar turun langsung memukul Aiptu Sugiri, pelajar yang lain ikut turun dan memukuli Polisi tersebut. Itu salah satu bukti keinginan keras para pelajar untuk melakukan tawuran.
Lebih prihatin lagi ketika pelajar melakukan duel dengan pelajar sekolah lain, seperti yang terjadi di Kota Bogor pada tanggal 29-09-2016, pertarungan duel satu lawan satu atau bisa disebut juga pertarungan ala Gladiator itu dilakukan oleh sekolah SMA Mardi Yuana dengan sekolah SMA Budi Muliya, bahkan dalam duel tersebut sampai menghilangkan nyawa seseorang, dalam kasus ini begitu seriuskah kekerasan yang terjadi dikalangan pelajar?
Menurut Dra. Noorkasiani dkk. Dalam bukunya yang berjudul Sosiologi Keperawatan, dijelaskan bahwa kekerasan adalah perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya seseorang atau kerusakan secara fisik dan psikologi. Kekerasan ini kata yang sangat populer, sebagian orang mengetahui apa itu kekerasan dan bolehkah kekerasan itu dilakukan. Sebagian manusia, mengetahui hal itu dan kebanyakan dari kita tidak mau menerima tindakan kekerasan terhadap kelompok atau golongan kita dan bahkan kita sendiripun tidak mau menerima tindakan kekerasan tersebut.
Penyebab terjadinya kekerasan sangat beragam, ada yang berawal dari individu yang suka melakukan tindakan kekerasan dan ada juga kelompok yang suka menebarkan kebencian yang berujung pada kekerasan secara fisik, penyebab lainnya adalah perbedaan secara keyakinan. Setiap individu, kelompok, dan orang yang berkeyakinan, kebanyakan tidak suka diganggu, namun batasan-batasan yang menjadi tolak ukur terganggu disini menjadi bomerang bagi manusia untuk melakukan tindakan kekerasan tersebut.
Seperti kasus pada tanggal 24 Februari 2015, terjadi pengeroyokan dan pembakaran begal yang tertangkap di wilayah Pondok Karya, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan. Meskipun itu terjadi pada dua tahun silam, namun sikap seperti ini membuat siklus kebencian dan kekerasan bertambah. Para begal lebih sadis lagi dalam melakukan aksinya, dikarenakan warga atau masyarakat lebih kejam lagi membalasnya. Rantai kebencian dan kekerasan seperi ini susah untuk diputuskan.
Dari situ bisa kita bisa lihat, tindakan kekerasan merupakan respon yang sangat natural. Tidak ada beban untuk melakukan tindakan kekerasan, meskipun tahu tindakan kekerasan itu tidak baik, namun tetap melakukannya. Ini sudah menjadi kebiasaan dilingkungan kita, bila ada yang membuat kerusuhan dan keresahan respon yang pertama kali dilakukan adalah membalas kerusuhan dan keresahan tersebut dengan tindakan kekerasan. Sama halnya ketika kita dalam perjalanan dan ingin membuang sampah, maka yang akan dilakukannya adalah membuang sampah disaat itu juga. Padahal tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu tidak baik, tapi tetap melakukannya.   
Penyebab kekerasan lainnya adalah tekanan sosial, remaja merasa dirinya tertekan oleh orang lain atau oleh keadaan. Pada dasarnya remaja memiliki emosional yang cukup tinggi dan tidak memikirkan dampak panjangnya, namun lebih melihat dampak pendek atau menyelesaikan masalah pada saat itu juga. Dengan adanya tekanan sosial, seorang remaja seringkali merasa terpinggirkan atau merasa terlihat beda, kebiasaan sifat manusia selalu ingin membuktikan sesuatu, cara untuk membuktikan disini bisa dengan hal yang positif dan hal yang negatif. Seringkali remaja lebih memilih kehal-hal yang mereka anggap benar.
Bentuk tekanan sosial yang terjadi adalah ketika remaja kurang kasih sayang dari kedua orang tua membuat perilaku remaja mencari-cari perhatian pada mayarakat. Respon masyarakat tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh remaja, maka remaja berfikiran bahwa tidak ada yang dapat mengerti dirinya selain temannya sendiri, ikatan emosionalpun terjalin dan setelah itu ikatan mereka lebih dekat dari pada ikatan saudara (sedarah).
Setelah terjalinnya ikatan tersebut, remaja selalu membantu temannya yang lagi kesusahan. Kesusahan disini meliputi beberapa faktor, seperti kesusahan dalam masalah ekonomi, pertengkaran dengan remaja lainnya, konflik dalam rumah dan lain sebagainya. Sehingga bila melakukan sesuatu yang salah maka tetap dianggap benar oleh dirinya.  
Selain tekanan sosial, kekersan dalam remaja biasanya dipicu oleh masalah perempuan. Masalah perempuan disini bukan berarti perempuannya yang salah, namun karena perebutan dengan cowok lain atau bisa jadi karena perempuannya digoda oleh cowo lain. Karena masalah seperti ini dianggap merendahkan harga diri, lantas masing-masing remaja akan membela harga dirinya sendiri yang pada akhirnya kekerasanlah yang menjadi solusi (pertarungan/duel).
Masalah yang di atas seharusnya bisa diselesaikan sendiri, namun karena faktor kedekatan emosional dengan temannya (solidaritas), maka masalah pribadi tersebut merambat menjadi masalah kelompok (geng) dan pada akhirnya peperangan atau tawuran antar kelompokpun dimulai. Situasi seperti ini sering kita jumpai di kalangan masyarakat dan biasanya yang menjadi korbanpun bukan hanya mereka, namun warga atau masyarakat sekitar juga menjadi korbannya.
            Bisa disimpulkan bahwa terjadinya kekerasan dalam sosial juga dipengaruhi oleh faktor individu (pribadi), yaitu apabila individu membentuk sebuah kelompok (geng) dengan menyamakan persamaan seperti persamaan keyakinan, persamaan merasa tersisihkan, dan lain sebagainya.  Sehingga ketika individu itu melakukan suatu tindakan yang diinginkannya, maka yang akan dia bawa dalam identitas dirinya adalah nama kelompoknya, sehingga konflik antara kelompokpun pasti terjadi. Kelompok yang satu beranggapan bahwa dirinyalah yang paling benar, anggapan seperti itu pula yang dirasakan oleh kelompok lainnya,  pada akhirnya tindakan kekerasan pula yang akan menjadi solusi. Kekerasan itu terjadi karena masing-masing kelompok  gengsi dan merasa benar sendiri sehingga tidak terjalinnya sebuah diskusi yang bisa memecahkan masalah tanpa melalui kekerasan.
            Bentuk geng atau kelompok dalam dunia remaja sangat beragam. Geng atau kelompok remaja ini berawal dari film-film barat, seperti koboi dan geng motor gede, adegan seperti ini menarik perhatian remaja kita dan membuat remaja kita mengikuti tren tersebut. Sampai sekarang geng atau kumpulan remaja semakin berkembang, ada geng motor, geng rock, geng seporter bola, dan geng-geng lainya.
            Geng-geng tersebut memasuki dunia sekolah dan tidak sedikit pelajar yang ikut serta dalam geng tersebut. Dengan itu pelajar merasa punya kekuasan, karena mempunyai banyak teman di gengnya. Proses untuk menjadi anggota geng pun cukup menarik, ada yang diadu (duel) dengan senior gengnya, ada yang dipukul, dan ada juga yang membacok orang yang lewat.
            Dari awal masuk geng saja sudah terlihat bentuk dari kekerasan yang terjadi seperti apa, maka jangan heran ketika sudah bergabung remaja sering berbuat tindakan yang diluar nalar orang deawasa. Karena perilaku yang meraka lakukan dianggap benar oleh mereka, meskipun tahu bawha itu salah mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena seolah-olah yang mereka lakukan itu sudah lumrah dilakukan oleh geng-geng yang lain.
            Dengan masuknya geng atau kelompok remaja ke dalam sekolah-sekolah membuat pelajaran yang ada di sekolah kalah dengan pelajaran yang didapat dalam geng tersebut. Pemahaman yang seperti ini bukan salah sekolah atau guru-guru yang mengajar. Karena secara ikatan emosional remaja lebih dekat dengan teman mainnya daripada dengan gurunya. Secara otomatis pemahaman yang diberikan temannya lebih menanam ditingkah lakunya dari pada pelajaran yang diberikan oleh gurunya.
Pada zaman sekarang kekerasan terjadi dimana-mana, seolah-olah kekerasan menjadi sebuah solusi yang benar. Terjadinya kerusuhan antara anak-anak sekolah yang berujung tawuraran memiliki dampak yang cukup serius, dampak yang dirasakan setelah terjadinya bentrokan antara pelajar biasanya kerusakan pada bangunan yang ada di sekitar, ini bisa dinamakan kerusakan secara fisik, kerusakan fisik lainnya adalah adanya luka-luka yang diderita oleh orang-orang yang terlibat, luka yang lebih terasa bagi orang yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam tindakan kekerasan adalah hati dan moral, ini dinamakan kerusakan secara non fisik. 
Kekerasan berdampak buruk bagi kehidupan sekarang dan pada masa yang akan datang. Dampak yang sekarang dapat kita rasakan secara umum adalah menganggap kekerasan sebagai solusi, mengeklain remaja yang suka kumpul atau yang melakukan kekerasan adalah orang-orang yang buruk, rasa trauma terus mengintai orang-orang yang pernah menjadi korban kekerasan, serta trauma itu menyebar ke orang-orang yang ada disekitarnya.
Dampak buruk pada masa yang akan datang karena tindakan kekerasan adalah menganggap kekerasan itu adalah hal yang biasa terjadi, meneruskan siklus kebencian antara remaja-remaja yang tidak diperhatikan di masyarakat sekitar dengan melakukan aksi-aksi yang tercela, siklus seperti ini tidak akan pernah ada habisnya.
Kita harus lebih memperhatikan dampak kekerasan pelajar sekolah ini terhadap Negara kita, karena pada dasarnya remajalah yang akan menjadi raja atau penguasa di Negara kita ini, apa yang akan terjadi pada Negara kita kalau anak-anak pelajarnya bertingkah seperti bukan orang yang terpelajar.
Setelah mengetahui penyebab dan dampak kekerasan kita bisa memikirkan solusi atau tindakan yang harus kita lakukan untuk mengurangi tindakan kekerasan pada remaja. Mengurangi tindakan kekerasan pada remaja bukan berarti memenjarakan mereka. Memenjarakan disini bisa berarti penjara di balik jeruji, bisa juga membatasi gerak atau tindakan remaja. Itu semua membuat remaja semakin berontak, tidak bisa melakukan kreatifitas atau pengembangan pengetahuan. Dengan itu remaja tidak bisa belajar dari apa yang telah mereka lakukan.
Kita dapat meminimalisir tindakan kekerasan dengan membatasi penyebran geng atau kumpulan pada remaja yang tidak berdampak baik bagi remaja atau bagi orang yang disekirtarnya. Dilihat dari ini bukan berarti geng yang ada pada remaja harus dibubarkan.  Karena tidak semua geng yang ada berbuat tidak baik namun ada juga geng remaja yang bisa melahirkan karya yang sangat luar biasa. Oleh karena itu kita harus melihat geng mana yang berpotensi melahirkan sebuah karya dan geng mana yang akan berdampak buruk bagi dirinya sendiri atau bagi orang lain. Kita mulai dari lingkungan yang kita tempati, setelah itu kita lihat dan amati geng mana saja yang berpotensi melakukan tindakan kekerasan dan apa yang melatar belakangi tindakan kekerasan tersebut.
Setelah itu kita mencoba berbaur dengan mereka, kita masuk dalam dunia mereka. Dengan begitu kita dapat merasakan apa yang mereka rasakan dan  kita bisa masuk dalam dunia bawah sadar mereka, mengikatkan tali pesaudaraan dengan mereka atau bisa dikatan terikat secara emosional. Dengan begitu kita mudah untuk memberikan pemahaman, bahwa penyelesaian masalah itu bukan hanya dengan kekerasan.
Tindakan kekerasan terjadi pada kalangan remaja biasa berawal dari pelampiasan mereka kepada dunia yang tidak seperti apa yang mereka inginkan atau merasa terasingkan. Dilihat dari itu kita dapat menghindari kekerasan dengan cara membuat kegiatan-kegiatan apa saja yang mereka senangi.  Paham dengan kehidupan mereka membuat kita tahu apa yang mereka inginkan. Setelah itu kita buat kegiatan yang mereka senangi dengan sistem kita. Contohnya seperti remaja suka membuat tulisan-tulisan di jalan, maka kita membuat kegiatan yang sesuai dengan itu. Pada intinya kita harus memperhatikan mereka dengan cara melakukan pendekatan bukan hanya bisa mengkritik apa yang mereka lakukan.
Setelah kita melakukan apa yang mereka senangi, secara otomatis mereka akan mengikuti apa yang kita senangi, itu yang dinamakan ikatan secara emosional atau timbal balik secara rasa. Dengan begitu kita mudah untuk memberikan pemahaman bahwa menyelesaikan masalah atau konflik dalam masyarakat tidak perlu dengan kekerasan.
Dimana ada tindakan yang tidak mestinya terjadi namun tetap terjadi, tidak perlu naik darah (emosi), perlu sikap bijaksana untuk menyelesaikannya. Seperti bila ada kasus pencurian dan orang yang mencuri tersebut tertangkap, tidak perlu memukili orang tersebut. Kita tanya terlebih dahulu mengapa dia mencuri, setelah tertangkap jangan main hakim sendiri atau jangan langsung memberikan pemahaman bahwa mencuri itu tidak baik. Karena pada dasarnya semua orang yang melakukan tindakan kejahatan tahu bahwa tindakan itu tidak baik, namun keadaanlah yang membuat mereka harus berbuat seperti itu.
Untuk penyelesaian masalah seperti itu, bisa dengan menyuruh orang itu menjadi tukang bersih-bersih di mushalah atau masjid, kasih uang gaji untuk makan dan kehidupan sehari-hari. Dengan tindakan seperti itu, kita sudah menghentikan salah satu rantai kebencian dan kekerasan dalam masyarakat. Dengan tindakan seperti ini berdampak baik bagi pelaku ataupun bagi orang-orang yang melihat, pelaku akan sadar dengan sendirinya, dan dampak bagi orang lain adalah memahami bahwa menyelesaikan maslah bukan hanya dengan tindakan kekerasan. Tindakan seperti itu bisa diterapkan dalam kasus-kasus yang lain walaupun dengan metode yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama.
Sikap yang kita tunjukan dalam setiap kasus mencerminkan bahwa kita ini bukan manusia yang sempurna. Seperti kasus pencurian yang berujung kekerasan, pembegalan yang dibalas dengan tindakan kekerasan, dan kasus berbuat mesum juga berujung pada tindakan kekerasan. Itu semua mencerminkan bahwa otak kita tidak digunakan untuk berfikir namun berinsting karena yang terjadi pada semua itu bisa dikatakan sebuah reflek yang terlahir dari sebuah proses menginsting bukan lahir dari proses berfikir.
Seseorang yang berbuat kesalahan atau kejahatan bukan berarti mereka pantas mendapatkan kekerasan. Kalau respon yang kita berikan kepada orang yang melakukan kekerasan dengan tindakan kekerasan juga, maka apa bedanya kita dengan orang itu. Sifat yang terlihat dari kekerasan menjadi solusi adalah terhapusnya nalar kemanusiaan kita dan terhapusnya ilmu pengetahuan kita, itu dampak utama yang dirsakan oleh pelaku ataupun yang melihat.
Satu-satunya cara untuk menghentikan tindakan kekerasan dan kebencian adalah dengan cara tidak melakukan tindakan kekerasan dan mengusir jauh rasa benci terhadap apapun. Jika kita tersakiti bukan berarti kita berhak untuk membalas rasa sakit tersebut. Karena apa bila kita membalas rasa sakit itu, maka balasan yang kita lakukan akan lebih dari rasa sakit yang kita rasa. Itu respon alami yang dialami oleh manusia, untuk itu jika kita tersakiti, maka tidak usah membalas dengan menyakiti lagi.  
Pada intinya kekerasan bukanlah solusi dari sebuah permasalahan, akan tetapi tindakan kekersan akan memperpanjang sebuah permasalahan. Namun bukan berarti kalau ada tindakan kekerasan terjadi di masyarakat  kita tidak melakukan apa-apa, kita hanya melihat saja itu adalah tindakan yang benar, tindakan seperti itu bisa dibilang salah, karena kita membiarkan kekerasan itu terjadi. Kita harus mencegahnya dan mengalihkan tindakan tersebut kehal-hal yang positif, seperti apa yang dicontohkn di atas.


Baca Juga: Membuang Sampah Dengan Sadar

No comments:

Post a Comment